TINGKALANON - TANDEK - MORION

Friday, September 11, 2009

Pinjamkan Kami Naluri Ibu Mu

Dia mengumpul anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Insan ini yang bernama ibu, yang tahu mengasihani anak-anaknya dengan naluri keibuan yang tepat. Tidak termungkinkan kita dapat menyanggah betapa maksud air mata ibu yang tumpah itu adalah keajaiban yang bisa menyembuh dan jalan terang bagi anak-anak. Benarlah syurga itu di bawah telapak kaki ibu. Kita tidak pernah tahu sabar dan ketabahan seorang ibu yang tersembunyi di lipatan waktu. Kita cuma mengerti ibu tersenyum tapi itu adalah goresan derita yang tidak pernah gagal untuk bersujud kepada-Nya memohon kesejahteraan bagi anak-anak. Kalau anak-anak ingin tahu erti kedamaian yang berseri di ruang rumah kecil, ketemukanlah kematu di kakinya. Perhatikan garis-garis usia yang berketar di hujung jemarinya. Di sana ada cerita yang bisa tidak terjawabkan oleh air mata. Dunia pun gentar oleh goncangan buaiannya.

Kini... engkau ibu telah mengangkat panji di medan perang memimpin bala tentera . Dan bila palu genderang berhenti taktha kerajaan itu milikmu Engkau kini bukan lagi mengumpul anak-anaknya di ruang rumah kecil. Doa mu kini bukan lagi sekadar kesejahteraan sang suami dan anak-anak.

Ibu, engkau kini memimpin anak-anak bangsa. Munajat doa mu kini berjubahkan keringat dan ratap tangis yang berzaman terabai di rimba harapan. Lalu seru kami dari empat arah mata angin. Tangisan dari terbit matahari sehingga ratap yang terkumpul di hujung rona senja ,sentuhlah itu dengan naluri keibuanmu yang tepat. Jika engkau tidak gagal membahagiakan ruang rumah itu, engkau juga tidak mungkin terabai melihat ruang desa yang hanyir oleh luka-luka yang tidak pernah sembuh. Engkau sudah melihat retak yang merekah di tulang bangsa , dimamah oleh kesombongan dan keangkuhan para pembesar yang dulunya menagih simpati di ceruk denai.

Demi pedih dan luka yang sudah tidak tertanggungkan di bahu kami, PINJAMKAN KAMI NALURI IBUMU dan kami akan kembalikan kepadamu anak-anak bangsa yang tahu bersyukur...... Luka ini HARUS jangan bertambah dalam.

2 Comments:

Blogger liau said...

terimaksih kerana mengerti - kalaulah aku punya kudrat - akan kukutip anak2 yang berkeliaran ditinggalkan ibu dan ayah......namun aku insan kerdil ...

Kalaulah aku bisa membuka mata dan telinga anak2 itu - kepada realiti kehidupan......namun seruan tidak di endahkan .......

2:06 PM  
Blogger Little Mike (LM) said...

Liau, lama tidak kedengaran suara di alam maya. Sangat menghargai kunjungan anda. Suara yang membisik dalam tulisan anda begitu menusuk perhatianku... Bisik seorang pejuang. Ayuh, kita yang semuanya kerdil ini, jika berganding bahu, hala tuju perjuangan akan menjadi suara-suara terkumpul menyisih rasa kekerdilan itu...

salam 1keluarga, 1perpaduan, 1perjuangan

5:25 PM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home