TINGKALANON - TANDEK - MORION

Tuesday, October 17, 2006

Senja Di Tingkap Hayat: Att Mr KOZON.. :)

Tulang rusuk keringku

Kusapu dengan deru desah sengsara

Masih sempat kunikmati resahku

Melepasi lengkungan dadaku

Ke hujung kaki legam dipagut rintik hujan

Sebentar getar tanganku menadah

Menyambut air jatuh

Bukan dari langit gelap

Kusapu kelopak mataku

Kuyu, basah dan separuh tutup


Rumah usang berderet di pinggir kota

Aku tidak mampu menyisih pedih silam

Meringkuk di perbaringan

Menagih mimpi antara renyuk kotak

Dan kawanan tin kosong di tepi dian mati

Renung mataku sarat bertanya

Menari ke ruang rasa

Mana perginya dunia bidadari

Satu-satunya waktu untukku tersenyum

Membaring lelah yang tak sudah

Seekor lalat membelah udara hanyir

Terbang melingkar ke puntungan rokok terbiar

Ingatan mati


Di hujung sana antara kerut dahi

Dan jenuh mendongak

Anak muda dan gadis pingitan

Tawar menawar

Pertama kali, selalu tak mau

Selalu, tak mau kalah

Sering selalu, semakin tak mau kalah

Di mana-manapun


Ada ingatan sedikit berlari ke bumi silam

Itu aku yang berjalan menghamba cinta bergemerlipan

Tidak menghirau arah cuma rasa aroma mimpi

Berjalan ke depan atau mundur

Berpencak menuruti kaki kiri

Ke sana atau ke sini di mana-mana

Kata hatiku itu syurga

Aku benar-benar terlupa...


Di hujung sana di antara bayang kaki kabur

Aku melihat kelibat kelam dan api kecil

Aku tau itu anak muda yang semalam bertanyakan kepadaku

“Hei! si tua, pinjamkan aku sekejap penyuntik milikmu”

Ia sedang bermimpi di celah dakapan tubuhnya yang cengkung

Antara kaki kiri yang membengkok

Dan lunjur kaki kanan yang telanjang

Ya, aku tau kerana aku terlalu sering begitu dahulu

Sekarang....


Gadis manis dan senyum mengoda

Dulunya juga antara penghuni duniaku

Berlalu tanpa sudi memandang

Menghantar liuk badan ke hujung sana

Di celah riuh gelak putra bangsa

Di dada ada lagi bilur pertanyaan

Sekalipun hanya kudrat sisa menampung asakan

Batuk dan sempit nyawa silih mengetuk bertali arus

Bukankah aku si jejaka tampan igauan wanita

Bukankah aku si jejaka ceria pujaan mata

Bukankah aku si teruna menawan hati dara

Penyeri di taman kota ke kota

Cinta dalam dakapan

Pujuk rayu dalam gengaman

Kata hatiku ‘Akulah taman surgawi itu’

Aku benar-benar terlupa


Ah! Persetan..

Aku tidak mau ambil tau lagi

Kapankah denyut nadiku berhenti menemaniku

Aku merangkak perlahan mencari lambaian ombak lagu

Dalam remang yang merayap kugagahkan diri

Mendekati anak muda yang tergelatak kaku di situ

Ah! Alangkah seronoknya anak mudah ini menikmati mimpi

Tunggu sekejap! Aku mau menyertai perjalananmu..



Seorang tua di perbaringan

Sebentar-sebentar menahan asakan kejutan tubuhnya

Memandang langit biru yang gelap

Ternganga menghantar nyawa entah ke seberang mana

Kaku..


Keesokan harinya di dada akhbar

‘Pelancaran Kempen Kesedaran Aids’

Hotel mewah dan tengahari yang terik

Majlis jamuan di kota

Dan sembang-sembang pemimpin

Senyum diasak kamera

Sepanduk atas jalan kota

Ke pinggir kota

Si tua kaku masih di situ...

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home