TINGKALANON - TANDEK - MORION

Friday, January 22, 2010

Narasi Untuk 'Jebat'

Keris Tuah tiada terhunus. Pencaknya pun tiada ditarikan. Namun gelanggang itu , sasar tujunya bermandi bidikan bertalu. Busur yang dihelah pendekar mengasah bisanya. Para hulubalang bersila, saksama dan kemas kejapnya.

Berbudi di hujung telunjuk, kemudi bersauh pekerti, mantera meredakan ombak namun gurindam menyeru taufan. Tingkap cakerawala dibuka di antara depa tangan lalu menuang halilintar. Seakan-akan gua tingkah tujuh tuju, lapis tujuh lipat itu nescaya gaung perbunuhan.

Tiada darah pertiwi! Dipukul gong seribu luka. Dentumnya berkisah angkara, denting berbalam gundah dulana.

Khabarkan ke gerbang astakona 'Ke mana angin semilirmu?' Jejak pelangi sembahkan ke lembah. Ada manik sirna suria. Basahkan telapak nurani. Gendang ubi, rebana, gong, nafiri, seruling, gambus.... cengkam dengan mata hati. Palukan bersama serumpun puisi...

Katamu.... darah mereka kau terhidu hanyir. Siapa dapat bezakan titis gerimis atau basah air mata yang tumpah ke bumi, waktu alam bertuankan renyai hujan??

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home